home sweet home

Sabtu, 31 Desember 2011

wise words from Mario Teguh

Engkau yang telah berketetapan untuk menang tahun ini, dengarlah ini …

Mulai sekarang, janganlah lagi engkau anggap ringan dirimu sendiri.

Orang lain boleh meragukan impian dan kemungkinanmu, tetapi engkau - tidak.

Apa pun yang terjadi, majulah, majukanlah dirimu, melangkahlah maju.

Mundur bukanlah pilihanmu.

Katakanlah, … aku tidak dirancang untuk mundur.

Abaikan semua keraguan orang yang tak akan menanggung kegagalanmu, dan yang hanya akan iri terhadap keberhasilanmu.

Ini tahunmu, ini hidupmu.

Tidak masalah apakah impianmu terlalu tinggi dan tidak masuk akal.

Semua impian besar yang tadinya tidak masuk akal, dicapai dengan tindakan sederhana yang masuk akal.

Ini tahunmu.

Jadikanlah dirimu penguasa dari perasaan, pikiran, dan tindakanmu.

Semoga Tuhan selalu mendampingi kejujuran dan kerja kerasmu.

Sampai kita bertemu di atas ya?

Aamiin

-----------------

Mario Teguh - Loving you all as always.

-----------------

Mario Teguh Super Mobile (MTSM)

Nasihat Satu Baris - dari MT di HP Anda (GRATIS), tampil otomatis setiap kali Anda menerima telepon atau SMS.

Download dan Install dari http://get.mtsupermobile.com/

----------------

1,000 Kaos Super Pertamax untuk posting pertama yang menggunakan kata Super, dari

www.PulStarOne.com
an MTSC Company
Penyedia Pulsa Selular dan Listrik Prabayar,
untuk keperluan Pribadi dan sebagai Agen (berbisnis sendiri)

Program ini berlangsung sampai dengan 5 Januari 2012

Minggu, 25 Desember 2011

Bridge Of Light lyrics by Pink

When you think
Hope is lost
And giving up
Is all you got,
Blue turns black,
Your confidence is cracked,
There seems no turning back from here

Sometimes there isn't an obvious explanation
While the holiest stars can feel the strongest palpitations

That's when you can build a bridge of light,
That's what turns the wrongs all right
That's when you can't give up the fight

That's when love turns nighttime into day,
That's when loneliness goes away,
That's why you gotta be strong tonight,
Only love can build us a bridge of light

When your feet are made of stone
You're convinced that you're all alone
Look at the stars instead of the dark
You'll find your heart shines like the sun
Let's not let our anger get us lost
And the need to be right comes at way too high a cost
[ From: http://www.elyrics.net/read/p/pink-lyrics/bridge-of-light-lyrics.html ]

That's when love can build a bridge of light
That's what turns the wrongs all right
That's when you know it's worth the fight

That's when love turns nighttime into day
That's when loneliness goes away,
That's why you gotta be strong tonight
'cause only love can build us a bridge of light

Deep breath, take it on the chin
But don't forget to let love back in

That's when love can build a bridge of light
That's what turns the wrongs all right
That's when you can't give up the fight

That's when love turns nighttime into day,
That's when loneliness goes away
That's why you gotta be strong tonight
'cause only love can build us a bridge of light

Only love can build us a bridge of light...

Selasa, 06 Desember 2011

doa untuk orang tua

"Ya Allah, ampunilah dosa kami & dosa kedua orang tua kami. masih terbayang air mata ibu yang mengalir & rintihannya disetiap malam ketika berdoa memohon kepadaMu untuk kebahagiaan kami, anaknya. Sayangilah Ibu & ayah kami sebagaimana beliau meyayangi kami sewaktu kecil. Ya Allah, Muliakanlah mereka, tiada pernah kami sanggup menggantikan setiap tetes air mata ibu & keringat ayah."

Senin, 05 Desember 2011

Menjadi PRibadi yang tidak membatasi dirinya sendiri

MENJADI PRIBADI YANG TIDAK MEMBATASI DIRINYA SENDIRI

Sahabatku yang baik hatinya, sampaikanlah ini …

Tuhanku Yang Maha Melapangkan,

Aku tahu bahwa batasku bukanlah langit.

Batasku yang sesungguhnya adalah diriku sendiri.

Maka ijinkanlah aku menegaskan diriku untuk tidak menyerah kepada rasa malas, agar aku tetap bekerja walau dalam kesedihan, dan agar aku tidak berpihak kepada dugaan-dugaan buruk yang hanya menjadikanku penunda.

Tuhan, rahmatilah proyek pengembangan pribadiku hari ini, agar aku lebih bersegera, agar aku tak membatasi yang mungkin aku capai.

Sesungguhnya, jika aku tak membatasi kepatuhanku kepadaMu, Engkau tak membatasi jawaban bagi doa dan harapanku.

Aamiin

By Mario Teguh

Jumat, 02 Desember 2011

hati yang tersakiti

Dear my beloved blog,I'm really sorry for not visiting u recently, I hope u always welcome me again and again, never feelin' bored to know me here..

Apa yang sedang dalam pikiranku sekarang hanya tertuju pada dia yg jauh disana, seseorang yang telah mengisi hari2ku, datang dalam hidupku walau hanya sebentar. Kawan. Apakah kalian tahu sakit yang ku rasakan, mungkin kalian tidak akan pernah tahu karena kalian tidak merasakannya...

Berawal dari Twitter kau datang padaku, kau Retweet aku kemudian kau follow aku, begitu juga sudah selayaknya ‎​ªkυ͡ follow back kmu. Sudah terasa sekian lama ‎​ªkυ͡ tidak menanggapi DMan mu melalui twitter, tp entah kenapa ada aliran darahku dan batinku yang menariku untuk menjawab semua pertanyaanya. Kau tanya padaku, kerja dimana dan kupun menjawabnya dengan senang hati.. Ternyata kita berdua memang sama-sama orang bank. Kau bagian Lendingnya, bagian yg mungkin sejak dlu tidak pernah aku inginkan selama ‎​ªkυ͡ kerja dibank. Dan ‎​ªkυ͡ sendiri adalah seorang Customer Service Officer disalah satu Bank Swasta terbesar diIndonesia..

Tanya jawabpun terjadi dan pada akhirnya kau meminta pin  ku, dan dengan tanpa ragu-ragu ‎​ªkυ͡ pun memberikannya kepadamu, kau mulai bbm ‎​ªkυ͡ hampir stiap waktu menanyakan keadaanku. Lagi ngapain, sedang apa dan dimana (mirip lagunya Sammu ya) hehehehe kemudian kau meminta nomer handphoneku dan ‎​ªkυ͡ pun memberikanya tanpa ragu. Dan sejak saatt itulah kau memulai menelponku, dan menanyakan mau ‎​ªkυ͡ telpon Ъќ>:/? kadang ‎​ªkυ͡ jawab tidak, karena ‎​ªkυ͡ masih dikerjaan, dan kemudian pas jam kerja mau pulang, kaupun menelponku dengan suara yang membuat ku tambah mengenalmu dari suaramu, kau pribadi dewasa yang ‎​ªkυ͡ memang inginkan. Kau nyanyi- nyanyi sambil nyetir mobilmu dan ‎​ªkυ͡ dengan senang hati mendengarnya.. Sampai teman disebelahku memperhatikan ‎​ªkυ͡ , "ada yg salah ya sama km ndi?" Trus ku jawab tidak kawan" ‎​ªkυ͡ hanya sedang ikut bernyanyi bersamamu. Siinitial H yg ‎​ªkυ͡ kenal, walau ‎​ªkυ͡ tau itu bukan nama aslimu. Kaumenelponku sampai- sampai sudah mau sampe depan rumahmu kau putar arah lagi hanya ingin ngobrol denganku. ‎​ªkυ͡ terkesan , ‎​ªkυ͡ terharu mendengarnya. Sejak saatt itu butir2 cinta tumbuh didalam hatiku. Apalagi ketika jam makan siang kau menelponku, dan ‎​ªkυ͡ memilih untuk tidak meneruskan teleponku karena ‎​ªkυ͡ sedang makan bareng teman-temanku. Kau pun pengertian. Ketika sore datang, kamu pasti tanya udah pulang?

Sampai pada suatu ketika ‎​ªkυ͡ pergi karokean sama teman2ku kau datang dengan perhatianmu walau hanya lewat bbmmu. Maagku kambuh dan kau memintaku untuk kembali, meminta antar temenku. Itulah yg membuat ‎​ªkυ͡ semakin luluh ketika kau tanyakan itu padaku. tumbuh lagi benih cinta itu semakin mendalam. Dan tidak hanya itu saja, mulai dari foto - foto yang kau tunjukan padaku, ‎​ªkυ͡ semakin tau bahwa kau memang dewasa ketimbang aku, dulu ketika ‎​ªkυ͡ tanyakan umur kepadamu, kau tidak pernah mau menjawabnya, sampai pada suatu ketika kau menjawabnya dan kau bilang kau sudah menikah dan memiliki seorang anak... Cyra nama anakmu.. Itu yang ‎​ªkυ͡ ingat sampai sekarang, padahal selama ini ‎​ªkυ͡ tidak mau menjalin hubungan dengan orang yg sudah menikah apalagi punya anak. Tp pikiran itu ‎​ªkυ͡ buang jauh dan ‎​ªkυ͡ pun mau menerimamu, karena ‎​ªkυ͡ terlanjur jatuh hati padamu. Hatiku sudah terpatri dan susah untuk melepaskannya. Wlau ‎​ªkυ͡ tau ini cinta yg salah dan terlarang yg Tuhan berikan padaku. Hari demi hari eberganti dan kitapun sering tukeran foto, dari foto biasa sampai foto dimana kau tunjukan foto telanjangmu, begitu juga ‎​ªkυ͡ , ‎​ªkυ͡ melalukan sebaliknya dengan senang hati. Pertemuan yang kau inginkan harusnya tanggal hari ini, kau memintaku menunggu diPekalongan dan kau menyuruhku menunggu disana. Tp sejak kau putuskan untuk menemuiku diSemarang pertanggal 25 dan 26, ‎​ªkυ͡ jadi khawatir dan ‎​ªkυ͡ putuskan untuk tidak menemuomu tadinya, tp entah kenapa hasratku bertemu denganmu, besar sekali sampe mengalahkanku untuk pergi ke Jogja main sama temen2ku... Kau katakan padaku bahwa kau ada training DisEmarang dan menginap dNovotel untuk 2 hari. ‎​ªkυ͡ pun mengiyakan untuk datang menemuimu.. ‎​ªkυ͡ berangkat pagi- pagi jam 7an.. Karena sebenrnya ‎​ªkυ͡ ingin ketemu kamu lebih awal, tp kau memintaku untuk tdak hari Jumatnya, karena kau pikir tidak akan bisa menemuiku karena pulangmu sore dan ampe malamm. Akupun dengan senang hati mengiyakannya.. ‎​ªkυ͡ berangkat pagi - pagi dengan rasa gembira karena sebentar lagi ‎​ªkυ͡ akan ketemu denganmu. DiParagon lah kau memintaku untuk menunggu. Jam 10 ‎​ªkυ͡ sampe diParagon, pertama yg ‎​ªkυ͡ lakukan , ‎​ªkυ͡ bbm km dan dengan saranmu ‎​ªkυ͡ akhirnya nonton walo pada saatt itu ‎​ªkυ͡ bingung mau nonton sama sapa, tpi demi kamu demi ketemu kamu, ‎​ªkυ͡ rela menunggu berjam2. Setelah nonton ‎​ªkυ͡ bingung mau ngapain akhirnya. ‎​ªkυ͡ putuskan untuk mencari Salon rambut, ‎​ªkυ͡ mau mengisi waktuku untuk potong rambutku, wkatuupun berjalan dan sudah jam 4 saatt itu, waktunya ‎​ªkυ͡ sholat ashar. Bis sholat ‎​ªkυ͡ bbm km karena bbku mau mati, dan pada saatt itu pula ku temukan tempat ngecharge bbku. Dan ‎​ªkυ͡ pun memberitahu kamu. Pda saatt hampir jam 5. Kau bilang udah mau keluar.‎​ªkυ͡ pun beranjak dari deket mushola, keatas muter2 liat baju smabil nunggu kamu.pada akhirnya km datang dan menjemputku dilobby luar Paragon, karena kamu telah selesai dengan pekerjaanmu. ‎​ªkυ͡ masuk kemobil dengan detak jantungku yg berdetak kencang, apakah orang disampingku itu adalah orang yg selama ini mengisi hari2ku dibbm dan dengan telponya. Kau berkacamata dan hampir membuatku tidak mengenalimu, kau sapa ‎​ªkυ͡ dan mengajaku ngobrol, sampai pada saatt kita muter-muter mencari hotel untuk bermalam kita nantinya. Terang saja ku sudah lupa jalan - jalan yg ada disemarang karea sudah lama ‎​ªkυ͡ tidak mengunjunginya. Sampai tiba kita temukan satu hotel deket stasiun, dan check in disana untuk semalam.

Jantungku tambah berdetak kencang dan membuat aliran darahku beku saatt itu, ini kenyataan ato hanya sebuah mimpi ku berduaan dengan kamu seorang yg selama ini menginginkanku. Hatiku tak pernah tau mengapa ‎​ªkυ͡ berbuat sperti ni, berani menemuimu dan menemanimu berduaan dikamar. Detik pun berjalan sambil kita ngobrol. Kau beritahukan ‎​ªkυ͡ bahwa sebenarnya kau bukan orang cirebon sperti yang pertama kali kau ceritakan padaku. Dan ternyata kau hanya diTegal, daerah deket Kotaku tercinta, Pemalang. Tp ku tidak perduli saatt itu walau kau boongin aku. ‎​ªkυ͡ dah terlanjur diitu dan untuk laripun susah... Kau memintaku untuk mendekatimu dan pada saatt itu ‎​ªkυ͡ memintamu untuk sholat dl, tp kau menolaknya, seakan nafsu sudah melebur keseluruh tubuh. Akhirnya pelan- pelan kau menciumku dan membuka bajuku, menciumiku sampai pada tingkat kegelianku karena kau nikmati tubuhku dengan penuh nafsu.. Setelah itu kau pun memintaku untk membuka bajumu, perlahan satu persatu - celana pun lucut dari tubuhku, kau pegang dan kau ciumi perutku. ‎​ªkυ͡ pun demikian tidak sabar memegang dan merabumu sampai ‎​ªkυ͡ lepaskan semua yg menempel ditubuhmu.. Kau seperti singa kelaparan ketika mulai menikmati tubuhku.. Sejak saatt itu jiwaku melayang entah kemana, dosa termanis yg pernah ‎​ªkυ͡ lakukan bersamamu. Melayang bagai terbang kenegeri awan, apalgi melihat wajah garangmu menikmatinya. Kau sudah meleburkan jiwamu padaku, sampai pada satt kita selesai melakukannya. Kau mandii dan ‎​ªkυ͡ pun menyusul kemudian..

Beberapa menit kemudian, kau bertanya padaku atau menanyakan bahwa kau mau pulang, karena keluargamu menunggumu. Sontak, hati dan jiwaku kaget, bagai ditusuk pedang ketika ku mendengarnya. Jiwaku hancur, perasaanku hancur berantakan,‎​ªkυ͡ tak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya ‎​ªkυ͡ teriak didepan mukamu dan menyebutmu manusia paling brebgsek yg pernah ‎​ªkυ͡ temui, nyatanya ‎​ªkυ͡ hanya diam dan membiarkanmu pergi begitu saja. Dengan kelukaan ini dan hati yg hancur berkeping -keping ‎​ªkυ͡ tidak berani melihatmu. Terlalu sakit aku dan tersiksa batinku kalau sampai melihatmu pergi. Meninggalkan ‎​ªkυ͡ sndirian disni dan tanpa menyesela sedikitpun kau tidak menghiraukan perasaanku. Ingin rasanya ‎​ªkυ͡ menghujam jantungku sendiri dan pergi selama-lamanya, tp ku sadar itu bukan cara yg baik dan akan membuatku tambah berdosa. ‎​ªkυ͡ putuskan untuk menahannya walo pada akhirnya ‎​ªkυ͡ Ъќ>:/ kuat. Sakit terlalu sakit, habis kau nikmati tubuhku kau meninggalkanku begitu saja. Ya Tuhan langsung ‎​ªkυ͡ ingin menangis tp airmataku terlalu kering untuk menangis. ‎​ªkυ͡ pun bersabar dan menguatkan diri sendirian dikamr, ‎​ªkυ͡ mau nekat pergi malamm itu jg tp jiwaku belom tenang. tinggal sendirian dikamar bagai hantu gentayangan, gelisah Ъќ>:/ bisa Tidur


, pikiran kemana-mana, akhirnya ku ambil air wudlu dan sholat jamak untuk dua waktuu saat itu... Ku pun mulai bbm km dan kamu hanya blng minta maaf kepadaku, meninggalkan hati yg terluka karena ditinggal pergi begitu saja. Sejak saatt itu kau tidak pernah membalas bbmku bahkan kau hanya membukanya dan mengabaikannya, sampai pada suatu ketika ku bbm km lagi akhirnya kau hapus kontaku.tp ku tiak hilanggg akalku, akhirnyaªkυ͡ sms kamu stiap detik dan semuanya mengandung ancaman, bukan ‎​ªkυ͡ bermaksud seperti itu ‎​ªkυ͡ hanya ingin mendapat balasanmu. Sampai pada saaat kau mmbalasnya kau tanyakan bagaimana caranya.. ‎​ªkυ͡ sendiripun tidak tahu. ‎​ªkυ͡ akan selalu menunggu janjimu untuk menemuiku terakhir kalinya. Walo untuk seterusnaya. Semoga kau menepati janjiku.. Seseorang berinitial H

Kamis, 20 Oktober 2011

Kekuatan Sebuah Kasih

Sebuah kisah nyata telah terjadi….

Hari itu adalah hari ulang tahun Ana yang ke duapuluh. Kakek dan nenek Ana sibuk menyiapkan segalanya pada hari yang berbahagia itu. Dalam keadaan demikian, hati Ana justru resah menantikan kedatangan pak pos. Seperti yang terjadi pada setiap hari ulang tahunnya, mamanya yang tersayang pasti akan mengirimkan surat dan ucapan selamat dari Amerika.

Dalam ingatan Ana, sejak dia masih kecil mama telah pergi bekerja di Amerika. Begitu juga yang diceritakan kakek dan nenek kepadanya. Dalam ingatannya yang telah memudar, dia masih mengingat dulu semasa kecil, mama pernah menggendongnya dengan penuh kasih dan memandangnya dengan sorotan mata lembut bagai cahya rembulan. Semua ini adalah bayangan yang masih ada dalam benaknya, juga saat indah yang sering dimimpikannya.

Namun, semua ini hanya tampak bayang-bayang. Dalam hati Ana, amat mengharapkan kepulangan mama, namun di sisi lain juga ada pertanyaan yang tak terjawab,”Mengapa mama tega meninggalkan aku yang masih begitu kecil untuk pergi jauh?” Dalam pemahamannya, mama gagal dalam pernikahan dan meninggalkan suaminya yang tak bertanggung jawab. Sejak kecil, kala merindukan mama, Ana selalu merengek dan memohon kepada kakek dan nenek untuk membawanya ke Amerika berjumpa dengan mama tersayang. Kakek-nenek selalu menjawab dengan wajah berbasuh air mata,”Mamamu sibuk bekerja di Amerika, dia juga sangat merindukan Ana, namun dia tak bisa menemani Ana. Maafkanlah mamamu, suatu hari nanti engkau akan mengerti semua ini.”

Dengan jantung berdetak kencang, Ana terus menantikan kedatangan surat mama pada hari ulang tahunnya yang ke dua puluh ini. Dia membuka kotak kesayangannya yang berisi kumpulan surat mama sejak Ana kecil sampai hari ini. Dari tumpukan kertas surat yang telah menguning diambil selembar surat dari mama. Ini adalah surat mama untuknya saat Ana berusia enam tahun dan mulai masuk sekolah. Mama berpesan,”Ana sudah masuk sekolah ya, banyak teman menemanimu bermain. Ana harus bergaul dengan baik, pakaian harus selalu dirapikan, rambut juga diikat dengan rapi ya..” Sepucuk surat lain diambilnya, ini adalah surat mama saat dia berusia enam belas tahun dan mulai masuk SMU. “Dalam ujian belajarlah sepenuh hati, masa depan nanti harus mengandalkan kemampuan yang didapatkan dengan penuh jerih payah. Dengan bekal ilmu pengetahuan, Ana baru dapat berlaga di masyarakat,” mama berpesan.

Dalam setiap pucuk surat, mama menyampaikan kasihnya yang tiada batas kepada puteri tunggalnya. Semua surat mama ini merupakan kasih dan motivasi terbesar bagi Ana selama pertumbuhannya belasan tahun ini. Setiap malam sebelum tidur, saat Ana merindukan mama, dia selalu memeluk kotak surat ini. Mama, di mana engkau berada? Apakah engkau memahami kerinduan Ana dalam kesendirian di sini? Mengapa mama tak pernah datang melihat Ana? Juga tak meninggalkan telepon dan alamat? Mama! Di mana engkau berada? Dunia begitu luas, manusia begitu banyak, di mana aku harus mencari mama?

Akhirnya datang juga pak pos mengantarkan surat mama yang ke tujuh puluh dua kepada Ana. Seperti biasanya Ana segera mengambil surat mama dan membukanya. Kakek dan nenek ikut berlari di belakang Ana seperti akan ada kejutan yang terjadi. Surat ini tampak lebih lusuh dan kuning dibandingkan surat-surat terdahulu, apa yang terjadi? Tulisan mama dalam surat tak lagi jelas dan rapi. Dengan tulisan yang sedikit berantakan mama menulis,”Ana, maafkan mama tak bisa menghadiri ulang tahunmu yang ke dua puluh. Sebenarnya mama selalu ingin hadir dalam hari ulang tahunmu setiap tahun. Namun, kalau saja Ana tahu bahwa mama telah meninggaldunia karena kanker lambung sejak Ana berusia tiga tahun, maka Ana pasti bisa memahami mengapa mama tak bisa hadir menemanimu pada setiap hari ulang tahunmu…” “Ana maafkan mama ya…! Ketika mama tahu bahwa hidup mama tak lama lagi, mama menatap wajahmu yang lucu, mendengar suaramu yang jernih mulai belajar memanggil mama…mama…, mama memelukmu erat-erat. Sungguh menyesal sekali, mama tak bisa lagi melihat buah hati mama satu-satunya tumbuh dewasa. Inilah hal yang paling mama sesalkan dalam hidup mama yang singkat.” “Mama tidak takut mati, tapi begitu teringat bahwa mama punya kewajiban untuk mendidik dan membimbingmu hingga dewasa, hati mama bagai diiris sembilu. Betapa mama ingin melihat engkau tumbuh dengan bahagia, namun apa daya mama tak lagi memiliki kesempatan untuk itu. Akhirnya mama memikirkan satu cara yaitu sebelum hidup mama berakhir, dari pagi hingga malam mama membayangkan engkau tumbuh dari tahun ke tahun, mama membayangkan masalah dan peristiwa yang akan engkau hadapi, kemudian dengan berbasuh air mata mama mulai menulis lembar demi lembar surat untukmu. Tujuh puluh dua lembar pesan dalam surat telah mama selesaikan dan mama serahkan kepada pamanmu yang ada di Amerika. Mama berpesan kepadanya untuk mengirimkan surat demi surat di saat-saat penting dalam hidupmu, untuk menyampaikan isi hati dan harapan mama kepadamu. Walau roh mama telah berpulang, namun dengan surat inilah hati mama bertaut dengan hati Ana.” “Saat ini…sambil menatap Ana yang sedang bermain dan merebut surat yang sudah selesai mama tulis…air mata tiada henti mengalir, Ana belum mengerti bahwa hidup mamamu tinggal beberapa hari, tidak mengerti bahwa surat-surat ini akan Ana baca dalam jangkah waktu tujuh belas tahun, satu demi satu menemani Ana tumbuh dewasa. Ana…betapa mama amat menyayangimu, sungguh tak tega meninggalkan Ana sendirian di dunia ini. Sekarang mama hanya bisa dengan sisa tenaga membayangkan Ana yang telah dewasa, Ana yang telah berusia dua puluh tahun. Ana, ini surat mama yang terakhir untukmu, mama tak kuat lagi untuk menulis, tapi kasih sayang mama untukmu melampaui hidup-mati, hingga selamanya…selamanya…”

Baca sampai di sini, Ana tak mampu menahan gelora di hatinya, berbagai perasaan berkecamuk di hatinya. Ana memeluk kakek dan nenek, menjerit dan menangis sekencang-kencangnya. Surat mama jatuh dari genggaman Ana, sebuah foto yang telah menguning jatuh dari lipatan surat. Dalam foto tampak sorotan mata mama yang penuh kasih, terus menatap Ana yang sedang bermain bersama setumpukan surat. Di balik surat tampak goresan pena mama yang telah memudar, tertulis: Selamat ulang tahun Ana, tahun 1998.

pengorbanan

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat dikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.”Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku
mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. sudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
>dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab,tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa
yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

From me:
“Simply things reminds to endless love for everyone, even we don’t realize or care about it” (sometimes)
Saya jadi ingat akan salah satu hal yang pernah menyentuh hati yang dilakukan oleh salah satu best friend, yaitu: Dia selalu ingat membelikan aku “sesuatu (hadiah)” kemanapun dia pergi, trus saya bertanya, ”kenapa kamu selalu ingat untuk membelikan aku hadiah???” (padahal saya tidak pernah mengharapkannya, bahkan kadang2 saya juga tidak membelikan dia sesuatu) Teman saya menjawab, ”karena aku peduli dan kau adalah salah satu temanku”.