Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Belajar didunia maya menyenangkan, tidak menjenuhkan dan pastinya banyak hal yang aku peroleh didalamnya, film, music baru update terus, so jangan males-males..
Sabtu, 15 Oktober 2011
hal ini
dear my story,
ingin ku tulis smua yang aku rasakan malam ni
tapi aku takut takut untuk mengungkapkanya...
ingin ku tulis smua yang aku rasakan malam ni
tapi aku takut takut untuk mengungkapkanya...
Sabtu, 17 September 2011
lighters lyric
[Hook: Bruno Mars]
This ones for you and me living out our dreams
We're all right where we should be
With my arms out wide, I open my eyes and now all I wanna see
Is a sky full of lighters, a sky full of lighters
[Verse 1: Eminem]
By the time you hear this, I woulda already spiraled up
I would never do nothing to let you cowards f-ck my world up
If I was you I would duck, or get struck like lightnin’
Fighters keep fightin’, put you lighters up, point them skyward, uh
Had a dream I was king, I woke up still king
Rap game’s nipple is mine for the milking
‘til nobody else even f-ckin’ feels me, til it kills me
I swear to God I’ll be the f-ckin’ illest in this music
There is, or there ever will be, disagree? Feel free
But from now on I’m refusing to ever give up
Only thing I ever gave up’s using, no more excuses
Excuse me, if my head is too big for this building
And pardon me if I’m a cocky prick, but you cocks are slick
Poppin’ sh-t on how you flipped your life around, crock of sh-t
Who you dicks tryna kid? Flip dick you did opposite
You stayed the same, cause cock backwards is still cock you pricks
I love it when I tell them shove it cause it wasn’t that
Long ago when Marshall sat, luster lacked, lustered
Cause he couldn’t cut mustard, muster up nothing
Brain fuzzy cuz he’s buzzin’, woke up from that buzzin’ now you wonder why
Does it how he does it, wasn’t cuz he has buzzards circling around his head
Waiting for him to drop dead, was it?
Or was it cause some b-tches wrote him off? Little hussy ass fusses
f-ck it, guess it doesn’t matter now, does it?
What difference it make? What’s it take to get it through your thick skulls
That this ain’t, some bullsh-t, people don’t usually come back this way
From a place that was dark as I was in just to get to this place
Now these words be like a switchblade to a hater’s ribcage
And let be known from this day forward, I wanna just say thanks
Cause your hate is what gave me the strenght
So let them drinks raise cause I came with 5'9" but I feel like I’m 6'8"
[Hook]
[Verse 2: Royce]
By the time you hear this I probably already be outty
I advance like going from toting iron
To goin and buying 4 or 5 of the homies, to iron man outie
My daddy told me slow down boy, you're going to blow it
And I ain't gotta stop to be the minute
To tell Shady I love the same way that he did Dr. Dre on the Chronic
Tell him how real he is, or how high I am
Or how I would kill for him, for him to know it
I cried plenty tears, my daddy gotta bad back
So it's only right, that I write till he can march right
In to that post office and tell 'em to hang it up
Now his careers Lebron's jersey in 20 years
I stop when I'm at the very top
You sh-tted on me on your way up, there's bout to be a scary drop
Cause what goes up, must come down
You goin down I'm something you don't wanna see, like a hairy box
Every hour, happy hour now, life is wacky now
Used to have to eat the cat to get the p-ssy
Now I'm just the cat's meow, oow, I'm classic now
Always down for the catchweight, like Pacquiao
Y'all are doomed, I remember when T-Pain ain't wanna work with me
My car starts itself, parks itself, and auto-tunes
Cause now I'm in the Aston, I went from having my city locked up
To getting treated like Kwame Kilpatrick
And now I'm fantastic, compared to a weed high
And y'all n-ggas just gossiping like b-tches, on a radio and TV, see me, we fly
Y'all buggin out like Wendy Williams staring at a bee hive
And how real is that? I remember signing my first deal
Now I'm the second best, I can deal with that
Now Bruno can show his ass, without the MTV awards gag
[Hook]
This ones for you and me living out our dreams
We're all right where we should be
With my arms out wide, I open my eyes and now all I wanna see
Is a sky full of lighters, a sky full of lighters
[Verse 1: Eminem]
By the time you hear this, I woulda already spiraled up
I would never do nothing to let you cowards f-ck my world up
If I was you I would duck, or get struck like lightnin’
Fighters keep fightin’, put you lighters up, point them skyward, uh
Had a dream I was king, I woke up still king
Rap game’s nipple is mine for the milking
‘til nobody else even f-ckin’ feels me, til it kills me
I swear to God I’ll be the f-ckin’ illest in this music
There is, or there ever will be, disagree? Feel free
But from now on I’m refusing to ever give up
Only thing I ever gave up’s using, no more excuses
Excuse me, if my head is too big for this building
And pardon me if I’m a cocky prick, but you cocks are slick
Poppin’ sh-t on how you flipped your life around, crock of sh-t
Who you dicks tryna kid? Flip dick you did opposite
You stayed the same, cause cock backwards is still cock you pricks
I love it when I tell them shove it cause it wasn’t that
Long ago when Marshall sat, luster lacked, lustered
Cause he couldn’t cut mustard, muster up nothing
Brain fuzzy cuz he’s buzzin’, woke up from that buzzin’ now you wonder why
Does it how he does it, wasn’t cuz he has buzzards circling around his head
Waiting for him to drop dead, was it?
Or was it cause some b-tches wrote him off? Little hussy ass fusses
f-ck it, guess it doesn’t matter now, does it?
What difference it make? What’s it take to get it through your thick skulls
That this ain’t, some bullsh-t, people don’t usually come back this way
From a place that was dark as I was in just to get to this place
Now these words be like a switchblade to a hater’s ribcage
And let be known from this day forward, I wanna just say thanks
Cause your hate is what gave me the strenght
So let them drinks raise cause I came with 5'9" but I feel like I’m 6'8"
[Hook]
[Verse 2: Royce]
By the time you hear this I probably already be outty
I advance like going from toting iron
To goin and buying 4 or 5 of the homies, to iron man outie
My daddy told me slow down boy, you're going to blow it
And I ain't gotta stop to be the minute
To tell Shady I love the same way that he did Dr. Dre on the Chronic
Tell him how real he is, or how high I am
Or how I would kill for him, for him to know it
I cried plenty tears, my daddy gotta bad back
So it's only right, that I write till he can march right
In to that post office and tell 'em to hang it up
Now his careers Lebron's jersey in 20 years
I stop when I'm at the very top
You sh-tted on me on your way up, there's bout to be a scary drop
Cause what goes up, must come down
You goin down I'm something you don't wanna see, like a hairy box
Every hour, happy hour now, life is wacky now
Used to have to eat the cat to get the p-ssy
Now I'm just the cat's meow, oow, I'm classic now
Always down for the catchweight, like Pacquiao
Y'all are doomed, I remember when T-Pain ain't wanna work with me
My car starts itself, parks itself, and auto-tunes
Cause now I'm in the Aston, I went from having my city locked up
To getting treated like Kwame Kilpatrick
And now I'm fantastic, compared to a weed high
And y'all n-ggas just gossiping like b-tches, on a radio and TV, see me, we fly
Y'all buggin out like Wendy Williams staring at a bee hive
And how real is that? I remember signing my first deal
Now I'm the second best, I can deal with that
Now Bruno can show his ass, without the MTV awards gag
[Hook]
Jumat, 22 April 2011
aku adalah kapten jiwaku
aku adalah kapten jiwaku
aku adalah kapten atas jiwaku
nahkoda atas hidupku
aku harus menguasai keduanya
sehingga tiap hari menjadi hari bahagiaku
rahasia besar ni telah diberitahukan guruku padaku,katanya....
lemahlah orang yang membiarkan perasaannya, mengendalikan perilakunya
perkasalah dia yg tindakannya dituntun oleh tekadnya
maka sejak hari ni kuputuskan
"jika merasa susah, kuputuskan untuk menyanyi riang
jika merasa sedih kuputuskan tertawa membahana
jika merasa lesu,ku putuskan untuk bekerja lebih giat
jika merasa takut, kuputuskan berjalan tegak
jika merasa lemah ,kuputuskan tersenyum dg lebar
jika merasa tak berdaya,kuputuskan untuk berdoa dg khusyuk
jika merasa jelek,kan kukenakan pakaian baru
jika merasa kecewa,kan kunyanyikan badai pasti berlalu
jika merasa gagal,kan ku kenang sukses yang lalu
jika merasa ragu,kan kunyaringkan suaraku
jika merasa kecil hati, kan ku segarkan mimpi dan cita2ku
jika merasa malas,kan ku ingat para pesaingku
jika merasa tertekan,kan kubayangkan wajah ibuku
jika merasa bimbang kan ku minta nasehat sahabatku
jika merasa miskin kan ku ingat karunia Tuhanku
jika merasa kuat, kan kuingat nasib dinosaurus
jika merasa hebat, kan ku ingat nasib firaun
jika merasa paling kaya, kan kuingat harta nabi sulaiman
jika merasa tak terkalahkan .kan kuingat sileher beton
Ya aku mengenal, misteri perasaan yang melanda semua orang
maka sekarang juga, kuputuskan bertahta atas perasaanku dgn selalu berpikir positif
kuputuskan menguasai diriku, dengan bertindak konstruktif
sebab aku tahu apabila aku menguasai hatiku maka sesungguhnya aku menguasai hidupku...
semoga bermanfaat
aku adalah kapten atas jiwaku
nahkoda atas hidupku
aku harus menguasai keduanya
sehingga tiap hari menjadi hari bahagiaku
rahasia besar ni telah diberitahukan guruku padaku,katanya....
lemahlah orang yang membiarkan perasaannya, mengendalikan perilakunya
perkasalah dia yg tindakannya dituntun oleh tekadnya
maka sejak hari ni kuputuskan
"jika merasa susah, kuputuskan untuk menyanyi riang
jika merasa sedih kuputuskan tertawa membahana
jika merasa lesu,ku putuskan untuk bekerja lebih giat
jika merasa takut, kuputuskan berjalan tegak
jika merasa lemah ,kuputuskan tersenyum dg lebar
jika merasa tak berdaya,kuputuskan untuk berdoa dg khusyuk
jika merasa jelek,kan kukenakan pakaian baru
jika merasa kecewa,kan kunyanyikan badai pasti berlalu
jika merasa gagal,kan ku kenang sukses yang lalu
jika merasa ragu,kan kunyaringkan suaraku
jika merasa kecil hati, kan ku segarkan mimpi dan cita2ku
jika merasa malas,kan ku ingat para pesaingku
jika merasa tertekan,kan kubayangkan wajah ibuku
jika merasa bimbang kan ku minta nasehat sahabatku
jika merasa miskin kan ku ingat karunia Tuhanku
jika merasa kuat, kan kuingat nasib dinosaurus
jika merasa hebat, kan ku ingat nasib firaun
jika merasa paling kaya, kan kuingat harta nabi sulaiman
jika merasa tak terkalahkan .kan kuingat sileher beton
Ya aku mengenal, misteri perasaan yang melanda semua orang
maka sekarang juga, kuputuskan bertahta atas perasaanku dgn selalu berpikir positif
kuputuskan menguasai diriku, dengan bertindak konstruktif
sebab aku tahu apabila aku menguasai hatiku maka sesungguhnya aku menguasai hidupku...
semoga bermanfaat
Minggu, 20 Maret 2011
kenangan sebelum disolo part I
ku mungkin salah satu bagian orang didunia ini yang beruntung, banyak orang yang ga tau kalau aku aadalah pejuang keras yang tidak akan pernah berhenti melangkah sampai aku mendapatkanya
walaupun harus dengan perjuangan yng cukup keras, bukankan dari dulu kalo aku menginginkan sesuatu hrus berusaha dan mendapatkanya
begitulah keinginanku sampe sekarang tak akan pernah hilang walo ditelan waktu.
kala hati ini gundah aku merasa putus asa dan tidak tau meski gimana, yang ada hanya rasa ketidakpastian yang dijalankan pikiranku,
ku semakin lama berasa ingin berlari jauh mengejar harapanku yang tertunda, ku yakin dengan semua keistimewaan dan kemampuan yang aku miliki, aku akan bisa meraihnya, tak ada yang bisa membuat aku berhenti menjadikan diriku sebagai seoarang yang mampu dan bisa mengatasi semua masalah.
karena bagiku seoarang saja bisa membuat duni berubah sampai keujung dunia sekalipun, itulah bedanya aku dengan orang lain, ya berpikiran yang kurang baik sementara yang lain harus bekerja keras, itu harus dijalani.. bersyukur pada sang pencipta bahwa ku bisa berada disni, tidak smua orang seberuntung aku, tulah yang selama ini da dalam pikiranku, yang membuat ku kadang sedih apa yang sebenarnya aku dapatkan sekarang, apakah hanya sebuah mimpi ..
pastinya tidak kurasa
Allah maha tahu atas pa yang terjadi ma hamba2Nya, begitu pula dengan diriku, semoga ku bisa menjaganya dengan baik dan bisa ku teruskan samapai aku benar bisa menjalankan hal baru kali ini..
belajar ilmu perbankan merupakan hal baru dalam hidupku tidak sesuai dengan apa yang aku ambil saat kuliah, pendidikan adalah kuliahku selama 4 tahun yang aku tempuh disemarang dengan keayakinan dan kepastian suatu saat ku bisa meraih mimpiku lwat bahasa inggris...
ku lanjut besok my dear..
walaupun harus dengan perjuangan yng cukup keras, bukankan dari dulu kalo aku menginginkan sesuatu hrus berusaha dan mendapatkanya
begitulah keinginanku sampe sekarang tak akan pernah hilang walo ditelan waktu.
kala hati ini gundah aku merasa putus asa dan tidak tau meski gimana, yang ada hanya rasa ketidakpastian yang dijalankan pikiranku,
ku semakin lama berasa ingin berlari jauh mengejar harapanku yang tertunda, ku yakin dengan semua keistimewaan dan kemampuan yang aku miliki, aku akan bisa meraihnya, tak ada yang bisa membuat aku berhenti menjadikan diriku sebagai seoarang yang mampu dan bisa mengatasi semua masalah.
karena bagiku seoarang saja bisa membuat duni berubah sampai keujung dunia sekalipun, itulah bedanya aku dengan orang lain, ya berpikiran yang kurang baik sementara yang lain harus bekerja keras, itu harus dijalani.. bersyukur pada sang pencipta bahwa ku bisa berada disni, tidak smua orang seberuntung aku, tulah yang selama ini da dalam pikiranku, yang membuat ku kadang sedih apa yang sebenarnya aku dapatkan sekarang, apakah hanya sebuah mimpi ..
pastinya tidak kurasa
Allah maha tahu atas pa yang terjadi ma hamba2Nya, begitu pula dengan diriku, semoga ku bisa menjaganya dengan baik dan bisa ku teruskan samapai aku benar bisa menjalankan hal baru kali ini..
belajar ilmu perbankan merupakan hal baru dalam hidupku tidak sesuai dengan apa yang aku ambil saat kuliah, pendidikan adalah kuliahku selama 4 tahun yang aku tempuh disemarang dengan keayakinan dan kepastian suatu saat ku bisa meraih mimpiku lwat bahasa inggris...
ku lanjut besok my dear..
Minggu, 27 Februari 2011
We The Kings We'll Be A Dream Lyrics
Do you remember the nights
We'd stay up just laughing
Smiling for hours
At anything
Remember the nights
We drove around crazy in love
When the lights go out
We'll be safe and sound
We'll take control of the world
Like it's all we have to hold on to
And we'll be a dream
Do you remember the nights
We made our way dreaming
Hoping of being
Someone big
We were so young then
We were too crazy
In love
When the lights go out
We'll be safe and sound
We'll take control of the world
Like it's all we have to hold on to
And we'll be a dream
Whoa whoa
Whoa whoa
Whoa whoa
When the lights go out
We'll be safe and sound
We'll take control of the world
Like it's all we have to hold on to
And we'll be
When the lights go out
We'll be safe and sound We'll take control of the world
Like it's all we have to hold on to
And we'll be a dream
Do you remember the nights
We'd stay up just laughing
Smiling for hours
At anything
Remember the nights
We drove around crazy in love
When the lights go out
We'll be safe and sound
We'll take control of the world
Like it's all we have to hold on to
And we'll be a dream
Do you remember the nights
We made our way dreaming
Hoping of being
Someone big
We were so young then
We were too crazy
In love
When the lights go out
We'll be safe and sound
We'll take control of the world
Like it's all we have to hold on to
And we'll be a dream
Whoa whoa
Whoa whoa
Whoa whoa
When the lights go out
We'll be safe and sound
We'll take control of the world
Like it's all we have to hold on to
And we'll be
When the lights go out
We'll be safe and sound We'll take control of the world
Like it's all we have to hold on to
And we'll be a dream
Langganan:
Postingan (Atom)